True Story

Cak Mukadi dalam Riwayat Ludruk Probolinggo

admin

21/06/2020

Mukadi dan Ludruk di Probolinggo 

 

ADA masanya seni pertunjukan ludruk sangat digandrungi masyarakat kita. Dulu, orang yang memiliki hajat pernikahan, khitan, sampai tasyakuran kelahiran anak, memilih nanggap ludruk. “Malah dulu kalau orang punya nazar, yang dipilih ya nanggap ludruk,” kata Cak Mukadi, penerus Ludruk Damai asal Kota Probolinggo.  

 

            Ludruk Damai merupakan kelompok ludruk asli Kota Probolinggo yang pernah mencecap manisnya masa kejayaan seni pertunjukan ludruk. Kelompok Ludruk Damai  didirikan pada tahun 1935 oleh Cokro Madi, ayah Mukadi.

 

Sebelum tahun itu, Ludruk Damai sudah ada, tetapi masih bernama Ludruk Sedjo Utomo yang dipimpin oleh Djosari, ayah Cokro Madi. Setelah diteruskan Cokro Madi, namanya pernah berganti menjadi Ludruk Joko Selamet. Dan baru pada 1935 Cokro Madi menetapkan nama Ludruk Damai.

 

Ludruk Damai bermarkas di kediaman Cokro Madi di Kampung Jati, yang sekarang menjadi tempat tinggal Mukadi di Jl Sunan Kalijaga nomor 03 Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo.  

 

         Sebelum ikut ludruk, Cokro Madi menjadi tentara gerilya melawan kolonial Belanda. Tak jauh dari tempat tinggal Cokro Madi, pernah ada sebuah bunker untuk tempat persembunyian tentara gerilya. Pernah suatu saat bunker itu digerebek tentara kolonial bareng pribumi mata-mata. “Orang pribumi yang menjadi mata-mata Belanda dulu disebut ‘orang cakra’,” tutur Mukadi yang dilahirkan pada 25 Mei 1951.

        

          Penggerebekan bunker di Kampung Jati oleh tentara kolonial Belanda tidak membuahkan hasil. Sebab, para tentara gerilya bisa lebih dulu meninggalkan bunker. “Tentara gerilya lebih dulu tahu dari penduduk, bahwa ada tentara Belanda yang datang. Jadi, tentara gerilya bisa menyelamatkan diri lebih dulu,” kata Mukadi mengingat cerita yang ia dengar dari ayahnya. 

 

            Menurut Mukadi, sebagai tentara gerilya, Cokro Madi juga pernah ditangkap tentara kolonial. Tetapi saat diperiksa di markas tentara, Cokro Madi berpura-pura menjadi orang bisu dan linglung. Tentara kolonial tidak mendapat keterangan apapun dari Cokro Madi. Alhasil, Cokro Madi dilepas. “Jadi, bapak (Cokro Madi) memang pinter lakon (akting),” kesan Mukadi.

 

            Cokro Madi kemudian fokus menjalankan Ludruk Damai. Grup ludruk ini menerima tanggapan mentas dari berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan sampai Solo.  

 

            Cokro Madi memiliki 4 putri dan 2 putra. Mukadi adalah anak bungsu. Rupanya Cokro Madi melihat ada bakat seni dalam diri Mukadi. Karena itu, sejak masih berusia 3 tahun, Mukadi sudah diajak main ludruk oleh bapaknya.

 

            Saat bersekolah di SD Minak Koncar (sekarang jadi SDN Sukoharjo 1), Mukadi kerap tidak masuk sekolah dalam waktu lama, karena ikut main ludruk bersama grup Ludruk Damai.  “Sekolah dua hari, sebulan tidak masuk. Karena kadung senang main ludruk, diajak orang tua. Tapi, ya tidak apa-apa itu sama gurunya,” kisah Mukadi.

 

            Dalam ingatan Mukadi, di tahun 1950-an itu grup Ludruk Damai merupakan satu-satunya yang ada di Kota Probolinggo. Di masa itu, order mentas yang diterima Ludruk Damai sangat padat.  “Itu masih jaya-jayanya ludruk. Dalam satu tahun, bisa sampai lima bulan tidak pernah pulang. Ya pindah-pindah mentas, dari terop ke terop,” kenangnya.

 

Di masa itu, kendaraan bermotor masih sangat jarang dimiliki. Untuk keperluan mentas dari terop ke terop, grup Ludruk Damai menggunakan pegon –kereta yang ditarik sapi. Padahal, rombongan grup Ludruk Damai jumlahnya sampai 52 orang, terdiri atas 40 orang pemain dan kru panggung, ditambah 12 orang pengrawit.

 

            Jadi, bila sedang memenuhi tanggapan mentas, rombongan Ludruk Damai itu butuh sampai tiga pegon. Semua pemain dan perlengkapan diangkut dengan pegon itu. Pegon paling depan untuk pemain dan kru panggung. Pegon tengah untuk gamelan. Pegon paling belakang untuk peralatan lain.

 

“Lha, sekitar jarak setengah kilometer sebelum lokasi tanggapan, gamelan sudah dibunyikan. Jadi rombongan kami disambut ramai oleh masyarakat. Kadang sampai disambut tabuhan ronjengan oleh masyarakat. Meriah,” kata Mukadi dengan mimik bangga.

 

Hampir semua daerah di Jawa Timur menurut Mukadi sudah pernah didatangi mentas Ludruk Damai. Daerah paling timur yang pernah disinggahi ialah Muncar, Banyuwangi. Sedangkan daerah paling barat yang pernah disinggahi ialah Solo. “Kalau jaraknya jauh begitu, kami dulu naik truk punya tentara. Ya sewa,” katanya.  

 

Di Jawa Timur, daerah seperti Lumajang, Pasuruan, dan Sidoarjo terbilang paling sering didatangi, bahkan sampai ke pelosok-pelosok. “Seperti sudah langganan.  Mulai acara kawinan, sunatan, kelahiran, sampai orang punya niat (nazar),” tambahnya.

         

          Di masa jaya Ludruk Damai, ludruk masih hanya diperankan oleh kaum lelaki. Walaupun ada peran perempuan, tetap diperankan oleh lelaki. Kalau ada pemain ludruk perempuan dianggap menyalahi hukum agama, karena di atas pentas berperan dengan bukan muhrimnya. “Jadi, pimpinan ludruk tidak mau memainkan perempuan untuk tampil di ludruk, karena takut menabrak norma,” katanya.

       

            Mukadi bercerita, pernah ada perempuan mantan penari tayub yang ingin main bersama Ludruk Damai, tetapi ditolak oleh Cokro Madi. “Pernah juga ada perempuan dari Mangunharjo yang cantik, ingin belajar tari remo, tetapi bapak tetap tidak mau. Salah satunya karena ada kebiasaan napel atau nyawer, itu rawan. Kata bapak, itu terlalu resiko,” ujar Mukadi. 

 

Menurut Mukadi, di tahun 1960-an, Cokro Madi sebagai juragan Ludruk Damai pernah ditawari masuk Lekra (Lembaga Kesenian Rakyat / organ underbow PKI). Kalau mau masuk  Lekra, Ludruk Damai akan dibiayai.

 

Namun, ajakan masuk Lekra ditolak Cokro Madi. Menurut Mukadi, bapaknya lebih ingin berdikari (berdiri di kaki sendiri). “Kalau sudah disumbang, berarti kamu tidak mampu mendirikan ludruk ini. Dan itu berarti kamu bukan pimpinan. Jangan sampai dibantu orang lain. Kalau mampu dan kuat, biayai sendiri,” kata Mukadi menirukan prinsip berdikari yang diucapkan bapaknya. Saat mengingat perkataan bapaknya itu, wajah Mukadi berubah sangat serius.  

 

Saat Mukadi masih berumur tiga tahun (tahun 1954), ia sudah diajak mentas oleh bapaknya. Mukadi kecil mula-mula dikenalkan pada peran sebagai anak.  Menginjak usia remaja, Mukadi mulai dipercaya membawakan peran jadi pembantu.

 

Karir Mukadi di Ludruk Damai terus bergerak naik.  Dari peran pembantu, ia  kemudian dipercaya memerankan lakon utama, bahkan kemudian naik lagi menjadi  sutradara (dalam ludruk disebut TD atau Toneel Director atau pengarah) sekaligus pemain.

 

Lalu berapa tarif tanggapan Ludruk Damai di masa jayanya dulu? Mukadi tidak tahu persisnya. Ia hanya ingat, setiap anggota dibayar sesuai kadar atau tingkatan perannya. Seorang pemegang peran tertinggi menurut Mukadi diberi bayaran Rp 25 setiap kali tanggapan.

 

Di zaman itu, uang Rp 25 menurut Mukadi sudah terbilang besar nilainya. “Waktu itu uang Rp 25 kalau ditambahi Rp 10 sudah bisa beli sepeda pancal. Jadi ya bayaran Rp 25 itu sudah besar,” katanya.

 

Ludruk Damai dalam setiap pementasan menggunakan bahasa Madura dicampur bahasa Jawa. Lakon dalam ludruk ini berupa cerita sejarah, babad, dan fantasi (fiksi).  “Dulu orang nanggap ludruk lebih banyak yang sudah langsung minta cerita (tertentu),” kata Mukadi.

 

Dalam kelompok Ludruk Damai masa itu, sosok penyusun cerita adalah Cokro Madi langsung. Beberapa judul lakon yang paling sering dipentaskan Ludruk Damai menurut Mukadi ialah Pangeran Aryo Situbondo, Babad Banyuwangi, Pahlawan Sawunggaling, Damar Wulan, Berdirinya Masjid Nahdatul Akbar (Situbondo), dan Johar Manik. Lalu ada pula lakon fiksi Dosa Tak Berampun dan Pak Rona.

 

Mukadi ingat, lakon Johar Manik pernah membuat bapaknya sempat dipanggil polisi. Sebab, Johar Manik bercerita tentang seorang kiai yang mencintai santrinya. Tetapi, kepada polisi, Cokro Madi menjelaskan bahwa cerita itu tidak sekedar fiksi. Ada kejadian nyata yang kemudian dia jadikan lakon dalam ludruknya.

 

Lakon-lakon yang dipentaskan Ludruk Damai tidak ditulis utuh seperti naskah drama. Ceritanya hanya ditulis ringkas. “Saya menyimpan beberapa cerita ludruk yang ditulis tangan bapak saya. Nanti saya cari,” kata Mukadi saat berbincang dengan penulis hari itu. Tetapi sayang, susah payah Mukadi mencari peninggalan bapaknya itu, tetap saja tak berhasil ditemukan. 

        

        Berbagai cerita ringkas yang ditulis Cokro Madi kemudian di-briefing-kan kepada para pemain sebelum mentas. “Setiap pemain sudah tahu jalan ceritanya. Setiap mau pentas, pemain dikumpulkan, untuk briefing yang isinya lebih pada pembagian peran,” tutur Mukadi.  

          

           Kata Mukadi, pemain Ludruk Damai sangat patuh kepada sutradara. “Kalau dapat peran melas (sedih), jangan coba-coba senyum. Harus betul betul melas. TD dulu sangat kereng, tetapi betul-betul hebat dalam membawa cerita. Kalau keliru dalam melakoni peran, pemain bisa diturunkan derajat perannya,” katanya.

           

           Mukadi mengatakan, di setiap pementasan, Ludruk Damai tetap menyajikan babakan sesuai pakem. Mukadi merinci, pementasan ludruk secara berurutan diawali bedayan (remo perempuan) – kiprah (remo laki-laki, tidak ada kidungan) – gambyong  (barisan perempuan joget dan nyanyi lagu, mundur, keluar, lalu masuk lagi serupa) – kidungan – con lucon (komedi) – ekstra (tambahan cerita/cerita pendek oleh pelawak) – dan baru masuk cerita inti.

            Dalam ingatan Mukadi, ada sejumlah pemain ludruk yang dulu seangkatan dengannya di Ludruk Damai. Mereka adalah Muji (lelaki) asal Kelurahan Wiroborang; Hanapi asal Kelurahan Wiroborang; Supadi asal kelurahan Wiroborang; Tomo (biasa berperan jadi perempuan) asal Kelurahan Wiroborang; Naji asal Kelurahan Jati; Tipan asal Kelurahan Jati;    Nurdin asal Kelurahan Jati; Kamijo asal Kelurahan Mangunharjo; Arpuyas asal Kelurahan Kedungasem; Halil asal Kelurahan Kanigaran; dan Ali A. asal Kelurahan Kanigaran.

Berikutnya ada Ali B. (biasa berperan jadi perempuan) asal  Sebaung, Gending; Sanamun asal Kelurahan Kanigaran; Enji asal Kelurahan Sukoharjo, Imam asal Kelurahan Sukoharjo; Bandi asal Kelurahan Sukabumi; Kustiyomono asal Kelurahan Sukabumi; Samin asal Kelurahan Jati;   Darno asal Kelurahan Jati; Suliman asal Kelurahan Ketapang; dan Supeno asal Blimbing, Malang.  

           

 

***

 

 

Ludruk Damai yang didirikan Cokro Madi sejak 1935, terakhir mentas dengan Cokro Madi sekitar tahun 1990-an. Sepeninggal Cokro Madi, banyak pemain Ludruk Damai yang berhenti sendiri, atau meninggal.

 

            Lalu, pelan-pelan Ludruk Damai meredup. Di zaman Cokro Madi, dalam satu tahun sampai ada tujuh bulan Ludruk Damai berkeliling memenuhi tanggapan di banyak tempat. “Zaman masih ada Bapak, dalam satu tahun bisa ada sampai 60 pementasan,” kata Mukadi. 

 

            Ludruk Damai sepeninggal Cokro Madi dipimpin oleh Mukadi. Tetapi zaman sudah banyak berubah. Di masa Cokro Madi, pertunjukan rakyat termasuk ludruk belum punya pesaing terberat: televisi. Sedangkan di masa Mukadi memimpin, ludruk sudah harus berhadapan dengan tontonan di televisi.

 

            Seni pertunjukan ludruk semakin meredup seiring munculnya beraneka jenis tren hiburan yang bisa dipilih masyarakat. Selain televisi, muncul tape player, tontonan orkes dangdut dan sebagainya. “Itu membuat tontonan masyarakat tidak harus ludruk,” kata Mukadi.

 

Kata Mukadi, dulu Kota Probolinggo kelebihan seniman ludruk. Kondisi itu bertolak belakang dengan yang terjadi saat ini. “Sekarang ini kesulitan. Kalau ada tanggapan, banyak mendatangkan pemain dari luar kota. Pemain dari Kota Probolinggo bisa dihitung dengan jari,” ujarnya.

 

Mukadi ingat, di zamannya Cokro Madi, banyak sekali orang yang berminat ikut ludruk. “Diajak jadi tukang kelir saja sudah senang,” katanya.

 

            Mukadi tahu betul bahwa perlu ada regenerasi, supaya ludruk tidak sampai mati. Tetapi Mukadi juga tahu persis bahwa renegerasi ludruk di zaman sekarang sangat sulit dilakukan.

 

            “Sedangkan saya ingin mencari bibit seniman ludruk, tidak ada pemain dari orang tradisi. Saya coba pemuda dari Jati, ludrukan untuk acara Agustusan. Awalnya semangat. Tetapi selesai mentas ya selesai. Diajak tanggapan, tidak mau, katanya malu. Ini kan aneh... Terus siapa yang akan meneruskan (ludruk) ini?” kata Mukadi.

 

            Dalam perbincangan dengan penulis, Mukadi terdengar pasrah dengan kondisi ini. Sebab, ia merasa segala usahanya untuk melakukan regenerasi ternyata tidak membuahkan hasil. Mukadi sampai menyatakan merelakan segala properti ludruk yang dimilikinya sampai saat ini dipakai siapapun, kelak bila ia sudah meninggal. “Kalau saya sudah tidak ada, peralatan saya silahkan pakai, siapapun saja,” kata Mukadi dengan nada berat.

            Kepada anak-anaknya, Mukadi memberi kebebasan memilih bidang apapun untuk menghidupi dirinya. Tidak harus ludruk. Dan memang, dari empat anak Mukadi, tidak satupun yang meneruskan bapaknya menekuni seni ludruk. 

 

            Hanya ada satu cucu yang “dikhawatirkan” Mukadi akan meneruskan darah seni darinya. Cucu yang dimaksud ialah Deni Prasetyo Putra, putra dari anak kedua Mukadi, Lina Sulistiowati. “Sekarang Deni sekolah di SMA di Jombang. Deni senang gamelan dan seni peran. Ini yang saya ‘khawatir’,” tutur Mukadi.  

 

            Ludruk Damai sampai saat ini tetap ada di bawah pimpinan Mukadi. Tetapi, personelnya hanya Mukadi seorang. Bila ada order tanggapan, barulah Mukadi mencari pemain, pengrawit, berikut kru lain yang dibutuhkannya. Pemain dan kru itu sebagaian dari Kota Probolinggo, sebagian lagi dari luar Kota Probolinggo.

 

            Waktu ditanya soal tarif tanggapan Ludruk Damai, Mukadi menyebut batas minimalnya. “Baru-baru ini tanggapan di Bantaran, tarif Rp 11 juta. Itu sudah lengkap dengan semua peralatan. Harga Rp 11 juta itu sudah terhitung cukup lah. Kalau di bawah Rp 11 juta, ya nggak cukup,” beber Mukadi dalam perbincangan dengan penulis pada 4 Agustus 2018.  

 

            Jumlah tanggapan Ludruk Damai dalam setahun tidak tentu rata-ratanya. Bisa ada, bisa pula tidak sama sekali. Selain mengharapkan pentas Ludruk Damai, Mukadi menggadang-gadang dapat tanggapan tampil sebagai komedian di acara-acara yang diselenggarakan Pemerintah Kota Probolinggo. Di luar tanggapan, kehidupan Mukadi ditopang usaha kecil-kecilan yang dilakoni istrinya.

                         

***

 

“Sekolah saya tidak normal. Tetapi sekarang saya bisa membaca dan menulis,” kata Mukadi bangga. Mukadi memang layak bangga soal kemampuannya membaca dan menulis. Sebab, ia mampu membaca dan menulis berkat kemauannya belajar secara otodidak, ditambah sedikit “metode akal-akalan”.

 

Mukadi ingat bahwa dirinya sejak umur 3 tahun sudah sering diajak main ludruk bersama bapaknya, yaitu Cokro Madi si juragan Ludruk Damai. Waktu sudah bersekolah, Mukadi lebih sering tidak masuk sekolah daripada masuknya. 

 

Menurut Mukadi, saat menginjak kelas V di SD Minak Koncar ia benar-benar sudah tidak meneruskan sekolah. Ia terlanjur menikmati waktunya berkeliling main ludruk ke mana-mana bersama Ludruk Damai.

 

Walau sudah sempat sekolah sampai kelas V SD, sebenarnya Mukadi belum mampu membaca dan menulis. Namun rupanya, Mukadi tetap menyimpan keinginan agar bisa membaca dan menulis. Maka, Mukadi belajar membaca dan menulis dengan cara yang unik.

 

Mukadi bercerita, jika tanggapan Ludruk Damai sedang libur, ia melihat banyak anak-anak belajar di depan rumah atau di dalam rumah yang dulu rata-rata berdinding gedek (anyaman bambu). “Saya mendengarkan itu, nguping. Kalau ada yang mengeja A, B, C, saya mendengar dan membayangkan apa itu A, B, C dan seterusnya,” tuturnya.

 

            Selain nguping, Mukadi suka ikut bermain dengan anak-anak yang dulu sukanya menulis di tanah menggunakan ranting. Ini juga menjadi cara pembelajarannya secara visual. “Mereka biasa menulis huruf di tanah, nah saya mempelajarinya. Dari situ akhirnya saya bisa belajar tentang huruf, dan bisa menulis,” kisah Mukadi.

 

            Acara bermain menulis di tanah rupanya dijadikan senjata andalan bagi Mukadi untuk belajar menulis. Ia pun melancarkan “metode akal-akalan”. Mukadi kecil jadi lebih sering mempengaruhi teman-temannya agar bermain menulis di tanah. “Jadi, saya yang sering mempengaruhi anak-anak itu supaya mau main menulis di tanah. Kalau saya punya uang, anak-anak itu saya belikan es,” katanya.

 

            Setiap bermain menulis di tanah, Mukadi menantang temannya menulis huruf atau kata. Dari hanya menulis huruf A, B, C dan seterusnya, sampai menulis nama Mukadi. Padahal, saat temannya menulis di tanah, Mukadi merekam dalam otaknya dan setelah itu menirukannya berulang-ulang. “Begitu bisa, saya nulis nama saya hasil menjiplak, berulang kali. Akhirnya saya pintar,” kata Mukadi disusul tawa lebar. (*)

 

  

Tentang Cak Mukadi

Nama lengkap                         : Mukadi

Tempat dan tanggal lahir       : Jati, 25 Mei 1951

Tempat tinggal & markas       : Jl Sunan Kalijaga nomor 03 Kelurahan Jati

Pendidikan Formal                  : SD Minak Koncar (sekarang SDN Sukoharjo I)

                                                  Putus sekolah saat kelas V 

Istri                                          : Sulastri Ningsih

 

Anak                                        : 1.Andik Setiawan 

                                                  2. Lina Sulistiowati

                                                  3. Meita Rani 

                          4. Iis Tri Astutik (belum berkeluarga)  

 

Koleksi Cerita 

Cerita Babad dan Sejarah:

Pangeran Aryo Situbondo

Babad Banyuwangi

Pahlawan Sawunggaling

Damar Wulan

Berdirinya Masjid Nahdlatul Akbar (cerita masjid di Situbondo)

 

Cerita Fiksi:

Johar Manik  

Dosa Tak Berampun

Pak Rona

 

Tarif Tanggapan

Minimal Rp 11 juta (sampai Agustus 2018)

 

 

 

 

 

Penulis: Imam Wahyudi

Foto    : Dokumen DKKPRO

(Koleksi Data DKKPRO: Data Seniman Kota Probolinggo)   

 

Related post

Berlangganan sekarang juga!

Berlangganan sekarang juga lalu dapatkan info berita terbaru dari kami. Atau daftar menjadi member dan akses semua konten, klik disini.